Sabtu, 06 Desember 2008
Dalam mengejar karier, seringkali kita mengalami pasang surut semangat untuk mengejar karier tersebut. Ada 10 kesalahan utama yang sering dilakukan seseorang, yang mengakibatkan patah semangat dan gagal dalam mencapai tujuannya. 10 kesalahan utama tersebut adalah:
1. 1. Menyalahkan orang lain dan kekanak-kanakan
saat kita mengalami hambatan, kegagalan dan rintangan, janganlah mencari siapa penyebab semuanya itu, tetapi kaji apa yang menjadi penyebabnya. Jika kita merasa orang lain menghambat karier kita, jangan menyalahkan orang tersebut, tetapi cari tahu apa yang mengakibatkan orang lain tersebut menghambat kita. Mungkin hubungan kita dengan orang tersebut belum terlalu akrab. Jadi perlu kita tingkatkan hubungan kita dengan rekan-rekan sejawat.
2. Menyalahkan diri sendiri
Kebalikan dari hal di atas, seringkali kita menyalahkan diri kita. Saya tidak bisa begini karena saya tidak sebagai pejabat struktural, maka saya selalu gagal mewujudkan impian saya. Saya tidak dapat begitu karena saya tidak pandai dan alasan lainnya yang kita cari. Hindari hal tersebut dan yakinkan bahwa anda BISA.
3. Tidak memiliki goal
Apa rencana anda dalam satu tahun mendatang berkaitan dengan karier anda sebagai dosen? Apakah anda memiliki keinginan bahwa setiap tahun sekali menjadi penulis di sebuah jurnal internasional? Apakah anda punya rencana studi lanjut? Tentukan TUJUAN anda.
4. Memiliki goal yang salah
Ada yang telah memiliki tujuan, tetapi tujuan tersebut salah, sehingga fokus kita juga salah. Ada yang menginginkan naik jabatan akademiknya, agar disegani dan dapat menjadi penguasa di lingkungan kerjanya. Tujuan yang kurang tepat ini, mengakibatkan upaya untuk mencapai tujuan juga kurang baik. Akibatnya seringkali jatuh di tengah jalan.
5. Tidak setia terhadap perkara kecil
Setia pada perkara kecil akan setia pada perkara besar pula. Jangan mengabaikan seminar kecil, jika kita memiliki kesempatan untuk menjadi pembicara di dalamnya. Ingat uang Rp 1.000.000,- jika kurang Rp 100,- berarti bukan Rp 1.000.000,- lagi melainkan Rp 999.900,-.
6. Memilih jalan pintas
Tidak ada upaya besar yang dapat ditempuh dengan bersantai ria. Semua langkah besar harus diikuti dengan semangat besar, tekad yang bulat dan disiplin yang keras. Tidak ada jalan pintas untuk meraih karier. Jalan pintas malah akan menuai cemoohan, harga diri yang jatuh, nama buruk. Setiap tujuan baik yang ingin kita raih, akan ada harga yang harus dibayar. Usaha keras adalah harga untuk meraih kesuksesan.
7. Waktu mencapai target yang lama
Jika seseorang ditanya, kapan akan menjadi profesor, maka akan dijawab nanti setelah usia senja. Mengapa harus menunggu, jika dalam usia muda dapat meraihnya?
8. Berhenti terlalu cepat
Saat menemui rintangan, seseorang sering kendor semangatnya dan memilih untuk berhenti dan tidak melanjutkan lagi impiannya. Hal ini tidak boleh dilakukan. Berupaya dan bekerja harus dilakukan tanpa henti.
9. Selalu dihantui bayang-bayang masa lalu
Tidak berani melangkah karena ada kegagalan masa lalu yang dijadikan patokan.
10. Menghipnotis diri dengan kesuksesan semu
Terlalu puas pada kesuksesan yang telah dicapai. Jika selama ini dapat menyelesaikan studi tepat waktu, bahkan lebih cepat dari waktu yang ditentukan, jangan berhenti dan cepat puas diri, strata berikutnya masih harus dikejar. Jenjang karier yang cepat diraih, membuat takabur, puas diri dan berhenti untuk terus menikmati kesuksesan diri tersebut. Atau kesuksesan masa lalu yang membuai kita, sehingga dianggap itu merupakan puncak kariernya. Padahal puncak karier masih jauh.
Label: Story
02.13
Alkisah, seorang anak laki-laki yang sedang belajar di sekolah. Gurunya menyuruh untuk membuat karangan mengenai cita-citanya. Ia pun menulis karangan setebal tujuh halaman yang memaparkan tujuannya untuk memiliki suatu peternakan secara terperinci dan ia bahkan menggambarkan sebuah sketsa tentang peternakan seluas dua ratus acre, yang memperlihatkan lokasi seluruh bangunan, kandang, dan jalur pacuan. Kemudian ia melukis denah yang mendetil untuk rumah seluas empat ribu kaki persegi yang akan terletak di peternakan dambaan hati seluas dua ratus acre itu. Ia benar-benar mencurahkan isi hatinya ke dalam subyek itu dan pada keesokan harinya ia menyerahkan karangan itu kepada gurunya. Dua hari kemudian ia menerima tulisannya kembali.
Di halaman depan tertera huruf F besar dengan catatan yang berbunyi, ‘Temui aku seusai jam sekolah.’
Guru itu berkata, “Ini adalah impian yang tidak realistis untuk anak muda seperti kamu. Kamu tidak punya uang. Kamu tidak memiliki sumberdaya. Peternakan kuda menuntut banyak uang. Kamu harus membeli tanah. Kamu harus membayar harga kuda bibit yang asli, kemudian kamu juga harus mengeluarkan biaya untuk kuda pacek yang mahal. Kamu sama sekali tak akan pernah dapat melakukannya.’
Lantas si guru menambahkan, ‘Kalau kamu mau menulis ulang karangan ini dengan tujuan yang lebih membumi, aku akan meninjau kembali nilaimu.’
Anak laki-laki itu pulang dan berpikir keras lama sekali tentang hal itu. Ia bertanya kepada bapaknya mengenai apa yang sebaiknya ia tempuh. Bapaknya berkata, ‘Camkan, Nak, kamu harus membulatkan tekadmu tentang ini. Bagaimana pun, aku pikir ini adalah keputusan yang sangat penting bagimu.’
Akhirnya setelah menimbang-nimbang selama seminggu, anak itu menyetorkan tulisan yang sama, tidak membuat perubahan sedikit pun.
Ia berkata, ‘Anda dapat mempertahankan nilai F itu dan saya akan mempertahankan impian saya.’
Impian yang dinilai tidak realistis oleh guru tersebut ternyata bisa dicapai oleh Monty. Suatu waktu ternyata guru tersebut sempat membawa tiga puluh orang anak berkemah di tanah peternakannya yang berdiri rumah seluas empat ribu kaki seperti yang dicita-citakannya.
Sumber: Chicken Soup for the Soul: Menjadi “Kaya” dan Bahagia Berhati-hatilah Anda dengan pencuri impian (dream stealer) karena orang-orang ini berada di sekitar Anda.
Pencuri impian seringkali mengatakan bahwa impian Anda tidak realistis. Jangan biarkan impian Anda menjadi rapuh karena pendapat seperti itu. Kejarlah impian Anda dan jangan sekali-kali mengejar impian orang lain yang dipaksakan kepada kita.
Monty Robert dalam cerita yang baru saja Anda baca berani mempertahankan impiannya walaupun ia harus menerima nilai F dan pada ahirnya ia membuktikan bahwa impiannya bisa terwujud tanpa harus terpengaruh oleh penilaian gurunya apalagi terpengaruh dengan berbagai alasan yang bisa menghambat kesuksesannya. Jika anda mempunyai impian itu berarti Anda sudah menempuh langkah pertama yang dibutuhkan untuk sukses karena sangat tidak mungkin Anda bisa mewujudkan impian Anda jika Anda sendiri tidak mempunyai impian.
Jika Anda belum mempunyai impian, temukan impian Anda. Bangunlah kepercayaan dalam diri Anda bahwa impian Anda bisa tercapai. Kepercayaan ini sangat dibutuhkan karena kepercayaan yang kuat akan menggerakkan pikiran Anda untuk mencari jalan dan sarana serta cara untuk mewujudkan impian Anda.
Kejarlah impian Anda dengan tindakan yang berkomitmen sehingga impian Anda tidak memudar atau bahkan mati. Seperti yang dikemukakan oleh Judy Wardell Halliday bahwa “Impian menjadi kenyataan saat kita menjaga komitmen kita terhadapnya.” Kembangkan sikap yang melampaui kemampuan Anda, maka impian Anda yang dikatakan orang lain mustahil tidak hanya mungkin tetapi juga pasti bisa Anda wujudkan. Pada tahun 1950, Walter Elias Disney atau yang kita kenal dengan nama Walt Disney mempunyai impian untuk membangun taman impian bagi anak-anak. Impian Walt ini dianggap gila oleh rekan-rekannya sesama pengusaha, namun Walt tetap dengan pendiriannya. Taman bermain ini akhirnya bisa diwujudkan pada tahun 1955 di Anaheim, California.
Pada waktu pembukaan, Walt Disney mengatakan dalam pidatonya bahwa “Kesuksesan dimulai ketika kita mulai mencipakan impian jauh ke depan. Dan saat kita berkomitmen untuk mencapai impian itu, maka selanjutnya impian itu yang akan menjadi magnet dan menarik kita ke sana.”
Eleanor Roosevelt pernah berkata, “The future belongs to those who believe in the beauty of their dreams." Ya, masa depan hanyalah milik orang-orang yang percaya akan keindahan mimpi-mimpi mereka.
Label: Story
01.22
Sekarang adalah jaman Teknologi Informasi, dimana-mana selalu menggunakan teknologi informasi. Orang yang tidak mengetahui teknologi informasi sering disebut gaptek (Gagap Teknologi). Mulai dari telephone, kamera, komputer, AC dll, semua berubah dengan begitu cepat. Teknologi informati yang dipelajari sekarang belum tentu digunakan pada saat bekerja nanti. Berikut ada pembicaraan dari orang yang bekerja di kantor mengenai penggunaan power point.
Ali : Saya menggunakan power point, saya sudah buat slidenya tetapi saya ingin menampilkan dengan cara menampilkan judul, kemudian detail ditampilkan per baris.
Amir : Ya, tinggal ditambahkan dengan menggunakan custom animation.
Amir meraih mouse dan keyboarnya dan mencobanya. Amir mengeluh karena Power Point yang digunakan versi 2000.
Amir : Tekan tombol ini “Custom Animation”
Ali : Caranya bagaimana? Ulangi dong
Amir : Tekan menu “Slide Show”, dan tekan “Custom Animation”
Ali : Kalau saya mau menampilkan satu baris – per satu baris. Bagaimana?
Amir : Ya, seperti ini.
Ali : Tolong ulangi dong.
Amir : Wah saya juga sedang mencoba ini, saya tidak tahu tepatnya, saya langsung saja menggunakan dan langsung bisa seperti ini. Saya tidak biasa menggunakan Power Point ini. Ini versi yang lama, lebih baik pakai versi yang baru.
Ali : Ini versi berapa?
Amir : Ini versi 2000, coba yang lebih baru.
Kemudian Ali dan Amir pindah ke komputer yang lain, setelah di cek ternyata komputer lain ini menggunakan versi 2003. Dan mereka mencoba versi 2003 ini.
Ali : Bagaimana ini?
Amir : Ini lebih enak, karena kamu bisa langsung block teks yang akan di tampilkan dulu mana, dan bisa kamu ubah urutannya.
Ali : Iya ini lebih enak. Kenapa ya kog banyak perubahan.
Amir : Ya, ini kan bisnis, semakin baru, semakin enak, dan kamu harus ganti yang baru, beli dan beli terus lah.
Dari pembicaraan di atas dapat kita pelajari, bahwa teknologi informasi berkembang sangat pesat. Semakin baru teknologi informasi maka akan semakin mudah dalam penggunaannya. Sedangkan teknologi informasi berubah setiap saat, setiap tahun ada teknologi informasi baru yang dikeluarkan baik dari perangkat keras, maupun piranti lunaknya.
Bagi mahasiswa fakultas ilmu komputer, apa yang dipelajari hari, materi tahun ini, berarti dibuat minimal pada tahun yang lalu, berdasarkan buku yang dibuat minimal tahun sebelumnya lagi. Ilmu teknologi informasi yang dipelajari sekarang adalah sudah tertinggal 3 tahun dari kenyataannya.
Jadi janganlah berhenti belajar, selalu membaca dan menambah wawasan dan informasi. IT selalu berubah dan kita harus selalu belajar.
Hal di atas bukan dikhususkan untuk mahasiswa fakultas ilmu komputer, tetapi secara umum, termasuk masyarakat pada umumnya Belajarlah selalu. Agar jangan sampai terjadi pada diri anda ”Hari Begini Tidak Tahu Teknologi”
Label: Story
01.18

Jika Anda sering mendengarkan filosofi "Success is My Right", yakni sukses adalah hak milik siapa saja, barangkali kisah yang dialami presiden terpilih Korea Selatan ini mampu menjadi contoh nyata. Lee Myung-bak yang baru saja memenangkan pemilu di Korea ternyata punya masa lalu yang sangat penuh derita. Namun, dengan keyakinan dan perjuangannya, ia membuktikan, bahwa siapa pun memang berhak untuk sukses. Dan bahkan, menjadi orang nomor satu di sebuah negara maju layaknya Korea Selatan.
Coba bayangkan fakta yang dialami oleh Lee pada masa kecilnya ini. Jika sarapan, ia hanya makan ampas gandum. Makan siangnya, karena tak punya uang, ia mengganjal perutnya dengan minum air. Saat makan malam, ia kembali harus memakan ampas gandum. Dan, untuk ampas itu pun, ia tak membelinya. Keluarganya mendapatkan ampas itu dari hasil penyulingan minuman keras. Ibaratnya, masa kecil Lee ia harus memakan sampah!
Terlahir di Osaka, Jepang, pada 1941, saat orangtuanya menjadi buruh tani di Jepang, ia kemudian besar di sebuah kota kecil, Pohang, Korea. Kemudian, saat remaja, Lee menjadi pengasong makanan murahan dan es krim untuk membantu keluarga. "Tak terpikir bisa bawa makan siang untuk di sekolah,"sebut Lee dalam otobiografinya yang berjudul "There is No Myth," yang diterbitkan kali pertama pada 1995.
Namun, meski sangat miskin, Lee punya tekad kuat untuk menempuh pendidikan tinggi. Karena itu, ia belajar keras demi memperoleh beasiswa agar bisa meneruskan sekolah SMA. Kemudian, pada akhir 1959, keluarganya pindah ke ibukota, Seoul, untuk mencari penghidupan lebih baik. Namun, nasib orangtuanya tetap terpuruk, menjadi penjual sayur di jalanan. Saat itu, Lee mulai lepas dari orangtua, dan bekerja menjadi buruh bangunan. "Mimpi saya saat itu adalah menjadi pegawai," kisahnya dalam otobiografinya.
Lepas SMA, karena prestasinya bagus, Lee berhasil diterima di perguruan tinggi terkenal, Korea University. Untuk biayanya, ia bekerja sebagai tukang sapu jalan. Saat kuliah inilah, bisa dikatakan sebagai awal mula titik balik kehidupannya. Ia mulai berkenalan dengan politik. Lee terpilih menjadi anggota dewan mahasiswa, dan telibat dalam aksi demo antipemerintah. Karena ulahnya ini ia kena hukuman penjara percobaan pada 1964.
Vonis hukuman ini nyaris membuatnya tak bisa diterima sebagai pegawai Hyundai Group. Sebab, pihak Hyundai kuatir, pemerintah akan marah jika Lee diterima di perusahaan itu. Namun, karena tekadnya, Lee lantas putar otak. Ia kemudian membuat surat ke kantor kepresidenan. Isi surat bernada sangat memelas, yang intinya berharap pemerintah jangan menghancurkan masa depannya. Isi surat itu menyentuh hati sekretaris presiden, sehingga ia memerintahkan Hyundai untuk menerima Lee sebagai pegawai.
Di perusahaan inilah, ia mampu menunjukkan bakatnya. Ia bahkan kemudian mendapat julukan "buldozer", karena dianggap selalu bisa membereskan semua masalah, sesulit apapun. Salah satunya karyanya yang fenomonal adalah mempreteli habis sebuah buldozer, untuk mempelajari cara kerja mesin itu. Di kemudian hari, Hyundai memang berhasil memproduksi buldozer.
Kemampuan Lee mengundang kagum pendiri Hyundai, Chung Ju-yung. Berkat rekomendasi pimpinannya itu, prestasi Lee terus melesat. Ia langsung bisa menduduki posisi tertinggi di divisi konstruksi, meski baru bekerja selama 10 tahun. Dan, di divisi inilah, pada periode 1970-1980 menjadi mesin uang Hyundai karena Korea Selatan tengah mengalami booming ekonomi sehingga pembangunan fisik sangat marak.
Setelah 30 tahun di Hyundai, Lee mulai masuk ke ranah politik dengan masuk jadi anggota dewan pada tahun 1992. Kemudian, pada tahun 2002, ia terpilih menjadi Wali Kota Seoul. Dan kini, tahun 2007, Lee yang masa kecilnya sangat miskin itu, telah jadi orang nomor satu di Korea Selatan. Sebuah pembuktian, bahwa dengan perjuangan dan keyakinan, setiap orang memang berhak untuk sukses, 'Success is My Right'!!!
Keberhasilan hidup Lee, mulai dari kemelaratan yang luar biasa hingga menjadi orang nomor satu di Korea Selatan, adalah contoh nyata betapa tiap orang bisa merubah nasibnya. Jika orang yang sangat miskin saja bisa sukses, bagaimana dengan kita? Mulailah dengan keyakinan, perjuangan, dan kerja keras, maka jalan sukses akan terbuka bagi siapapun. Salam sukses Luar biasa!!!
Label: Success Story
01.15
Dalam pengumpulan tugas biasa ditentukan oleh batas waktu. Pada saat perkuliahan , mahasiswa mempunyai kebiasaan yaitu mengerjakan pada detik-detik terakhir. Jika tugas satu minggu maka tugas akan dikerjakan satu hari sebelum hari pengumpulan tugas. Sehingga sudah tentu hasil kurang memuaskan. Kebiasaan dosen yang selalu menilai berdasarkan yang penting kumpul saja, menyebabkan mahasiswa membuat tugas asal-asalan.
Begitu pula dengan pengumpulan skripsi ada pula batas waktu yang sudah ditetapkan oleh Universitas. Dalam penyusunan skripsi dimulai dari penentuan dosen pembimbing, penentuan judul dan pembuatan skripsi. Pembuatan skripsi membutuhkan waktu yang cukup panjang lebih kurang 6 bulan, dan oleh mahasiswa sering kali merasa bahwa waktu masih jauh sehingga ditunda dalam pengerjaannya. Hal ini menyebabkan skripsi dibuat, dan mulai fokus untuk mengerjakan pada bulan-bulan terakhir. dan ini yang menghasilkan isi skripsi kurang begitu baik.
Skripsi yang dikumpulkan dikoreksi terlebih dahulu oleh Dosen Pembimbing. Dan dosen pembimbing harus memberi nilai untuk digabung dengan dosen penguji di ujian pendadaran skripsi.
Ada pilihan yang harus diambil oleh dosen pembimbing dalam hal ini, yaitu dosen merasa kasihan dengan hasil yang jelek, yang menyebabkan mahasiswa tidak lulus dalam ujian pendadaran. Sehingga Dosen tidak membiarkan mahasiswa tsb maju ujian pendadaran skripsi, mahasiswa diminta memperbaiki lagi dan dosen meminta persetujuan Universitas untuk menunda ujian tersebut.
Sedangkan pilihan yang lain yaitu dosen membiarkan mahasiswa tersebut maju ujian pendadaran, dengan memberikan nilai apa adanya, yang yang kurang begitu baik. Jadi tidak ada pengunduran jadwal sidang pendadaran skripsi. Memang keduanya pilihan yang jelek. Sebaiknya mahasiswa mengerjakan jauh hari, dan kumpul tepat waktu.
Ada sudut pandang yang berbeda yaitu mendapatkan nilai baik dan disiplin waktu. Mana yang lebih penting. Kalau diperhatikan kedua-duanya penting.
Sudut pandang mendapatkan nilai baik, dosen perlu membimbing agar mahasiswa mengetahui kesalahan isi skripsi, dan memang ini tanggung jawab dosen. Dosen seperti ini tidak salah juga, dia berpikir yang penting mahasiswa tidak sampai gagal di ujian pendadaran skripsi, nama baik dosen pembimbing, jika mahasiswa bimbingan gagal. Dosen terlihat ada perhatian dengan kelulusan mahasiswa tersebut.
Sedangkan sudut pandang disiplin waktu, terlihat dosen tidak peduli dengan mahasiswa yang mendapatkan nilai skripsi kurang baik. Tetapi disisi lain bahwa dosen memberikan pendidikan yang berguna bagi mahasiswa, bagaimana menghargai waktu, tidak terlambat dalam mengerjakan tugas, tidak terlambat mengumpulkan tugas. Untuk nilai memang si mahasiswa berhak mendapatkan nilai kurang. Disini mahasiswa akan bertanggung jawab di kemudian hari dalam hal bekerja nantinya.
Kalau kita perhatikan bahwa orang sukses itu lebih dilihat dari aspek softskill, bukan hard skill. Begitupula dalam dunia kerja aspek softskill akan menjadi keberhasilan di kemudian hari. Memang hardskill adalah sebagai alat untuk masuk ke dalam dunia kerja. Perhatikan disiplin waktu agar dikemudian hari bisa menjadi orang sukses atau organisasi sukses atau negara sukses.
Label: Story
00.55
Jarang Diucapkan Sering Dilakukan Kalau diamati mungkin kata yang sangat jarang diucapkan tetapi paling sering dilakukan adalah mengeluh. Fenomenya yang menarik adalah orang hampir selalu mengeluh kepada orang yang tidak dapat melakukan apa-apa atas keluhan yang disampaikan alias mengeluh kepada orang yang salah. Di kantor, orang mengeluh mengenai fasilitas kerja yang kurang baik, pimpinan yang kurang bijaksana, staf yang malas, rekan sekerja yang "tukang jilat", pacar atau pasangan hidup yang cerewet, dan lain-lain. Di rumah, orang mengeluh kepada saudara, orang tua, dan atau pasangan hidup mengenai perusahaan tempatnya bekerja yang pelit, pimpinan yang licik, rekan sekerja yang cari muka, dan lain-lain. Dari contoh ini, baik di rumah maupun di kantor orang mengeluh kepada orang yang betul-betul tidak tidak dapat melakukan apa-apa atas keluhan tersebut. Keluhan yang disampaikan kepada orang yang salah tidak akan menyelesaikan apa-apa atau mendapatkan apa-apa. Orang melakukan kebiasaan mengeluh karena mereka tahu persis bahwa ada sesuatu yang lebih baik. Orang yang tidak yakin bahwa ada sesuatu yang lebih baik yang bisa diperoleh misalnya fasilitas kerja yang lebih baik, pimpinan yang bijaksana, staf yang rajin, rekan kerja yang bersaing secara fair, pacar atau pasangan hidup yang lebih sayang, penghasilan yang lebih tinggi tidak akan bisa mengeluh. Saya ulangi, orang mengeluh karena mereka tahu persis bahwa ada sesuatu yang lebih baik. Mereka tidak hanya tahu bahwa ada sesuatu yang lebih baik tetapi juga tahu bahwa mereka lebih menyukainya. Orang mengeluh karena mereka kecewa bahwa realitas yang terjadi tidak sesuai dengan harapan mereka. Sebenarnya tiada situasi tanpa tanpa harapan, yang ada hanyalah mereka yang bertumbuh tanpa harapan, demikian menurut Marshall Ferdinand Foch. Tetapi mengapa mereka hanya bisa mengeluhkan apa yang mereka tahu lebih baik, lebih menyukainya, dan mengharapkannya? Jawabannya sangat sederhana, karena mengeluh itu sangat mudah untuk dilakukan. Jauh lebih mudah dibandingkan menyampaikan langsung keluhan tersebut kepada orang yang benar-orang yang dikeluhkan atau orang yang dapat membantu memberikan solusi atas keluhan tersebut karena untuk melakukan yang satu ini dibutuhkan keberanian terutama keberanian untuk menghadapi resiko. Resiko dimarahi balik oleh orang yang mendapatkan keluhan atau resiko tidak mendapatkan simpati atas keluhan yang disampaikan atau bahkan tidak mendapatkan solusi yang diharapkan, resiko ditinggalkan pacar atau pasangan hidup, dan sebagainya. Motivator No. 1 Indonesia, Andrie Wongso menegaskan dalam kata-kata mutiaranya, “Memang di dalam kehidupan ini tidak ada yang pasti. Tetapi kita harus berani memastikan apa-apa yang ingin kita raih.” Ya, keberanian mengambil resiko itu sangat penting karena tanpa keberanian mengambil resiko tidak akan membawa ke tujuan apa pun. Pernahkah Anda mengamati orang mengeluhkan hal-hal yang tidak bisa diperbaiki? Saya rasa tidak, orang hanya mengeluhkan hal-hal yang bisa mereka perbaiki. Orang yang mengeluh karena penghasilannya kecil sebenarnya bisa mendapatkan penghasilan yang lebih besar dengan upayanya sendiri. Orang yang mengeluh perusahaan tempatnya bekerja pelit bisa bekerja di perusahaan lain yang menurutnya tidak pelit. Namun, orang tidak pernah mengeluh karena gunung meletus karena gunung yang meletus di luar kekuasaannya. Jadi, orang tidak akan mengeluhkan hal-hal di luar kekuasaanya. Kalaupun ada orang yang mengeluhkan hal-hal yang di luar kekuasaannya mungkin patut dipertanyakan untuk apa toh apa yang dikeluhkan di luar kekuasaannya. Mengeluh kepada orang yang salah atau mengeluhkan sesuatu yang di luar kekuasaan adalah hal yang sia-sia. Mari kita simak cerita berikut yang saya kutip dari buku Reach Your Maximum Potential karya Paulus Winarto. Seorang yang senantiasa khawatir menelepon Norman Vincent Peale. “Segalanya kacau dan saya khawatir setengah mati!” katanya. Spontan Peale menjawab, “Mungkin saja, karena Anda khawatir setengah mati, seperti barusan Anda bilang. Anda terapkan pikiran-pikiran yang tidak rasional terhadap urusan-urusan Anda sehingga hasilnya memang buruk.” Pria itu melanjutkan keluhannya, “Segalanya sudah tersapu bersih. Habis sudah. Semuanya sudah habis. Tinggal kekhawatiran saja. Tidak ada apa-apa lagi.” Kali ini, Norman menanggapi dengan nada simpatik, “Saya turut menyesal bahwa istri Anda meninggalkan Anda.” Tentu saja si pria ini bereaksi keras, “Siapa bilang istri saya meninggalkan saya?” “Bagus deh, kalau begitu,” jawab Peale. “Begini. Cobalah hitung-hitung berapa banyak kehilangan Anda dan berapa banyak sisanya. Mari kita bicarakan dulu apa yang masih tersisa, baru kita diskusikan apa yang hilang,” ajak Peale. “Tak akan ada yang bisa kita bicarakan kalau begitu,” sahut pria itu. “Ya, pertama-tama Anda ‘kan punya aset yang sangat layak. ‘Kan istri setia dan mengasihi Anda. Sayangnya, anak-anak Anda kecanduan narkoba dan dipenjara,” ujar Peale. “Anak-anak saya bukan pecandu narkoba, kok! Mereka anak-anak yang baik dan tidak pernah dipenjara!” sahut pria ini dengan nada serius. “Bagus, dong! Masukkan itu ke dalam daftar aset Anda. Memang berat sih kalau rumah Anda terbakar padahal asuransi Anda sudah kadaluarsa karena Anda tidak punya uang untuk membayar preminya, “ kata Peale. “Dari mana sih Anda dapat informasi yang semuanya keliru itu? Rumah saya tidak terbakar dan uang saya cukup kok untuk hidup,” jawab si pria ini. Setelah itu, ia mulai memahami tidak ada gunanya mengeluh dan seharusnya ia bersyukur dengan apa yang ia miliki. Izinkan juga saya untuk mengajak Anda menyimak tulisan yang banyak beredar di mailing list atau pun yang dituliskan orang di blog mereka. Sebelum Anda mengeluh coba renungkan beberapa hal ini Sebelum Anda mengatakan kata-kata yang tidak baik, pikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berbicara sama sekali. Sebelum Anda mengeluh tentang rasa dari makananmu, pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan. Sebelum Anda mengeluh tidak punya apa-apa, pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta dijalanan. Sebelum Anda mengeluh bahwa Anda buruk, pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk di dalam hidupnya. Sebelum Anda mengeluh tentang suami atau istri anda, pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan teman hidup Sebelum Anda mengeluh tentang hidupmu, pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat. Sebelum Anda mengeluh tentang anak-anakmu, pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul. Sebelum Anda mengeluh tentang rumah Anda yang kotor karena pembantu Anda tidak mengerjakan tugasnya, pikirkan tentang orang-orang yang tinggal dijalanan. Sebelum Anda mengeluh tentang jauhnya Anda telah menyetir, pikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan kaki Dan di saat Anda lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu, pikirkan tentang pengangguran, orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan sepertimu. Sebelum Anda menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain, ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa dan sempurna Setelah Anda menyimak tulisan di atas, mungkin Anda semakin menyadari betapa bersyukurnya Anda dengan kondisi kehidupan yang Anda miliki saat ini. Bersyukurlah, jangan hanya memusat perhatian Anda pada apa yang tidak Anda miliki sementara dimiliki oleh orang lain. Bersyukurlah Anda memiliki sepatu atau sandal yang dapat Anda kenakan saat ini, jangan hanya bisa mengeluh sepatu atau sandal Anda kurang bagus sampai Anda melihat orang yang tidak mempunyai kaki. Life is a miracle. Betapa tidak, masih diberikan kehidupan saja harus disyukuri karena setiap detik kehidupan adalah suatu mukjizat dari Yang Maha Kuasa. Bersyukurlah atas kehidupan Anda saat ini. Berhentilah mengeluh dan lepaskan diri Anda dari belenggu yang melilit Anda. Sadarilah bahwa mengeluh tidak akan menyelesaikan apa-apa bahkan hanya akan melukai diri Anda dan dengan mengeluh sebenarnya Anda sedang mempersiapkan diri Anda menjadi orang gagal. Dengan terlalu sibuk mengeluh seseorang secara tidak langsung menutup pengembangan potensi lain dirinya. Dan dengan terus mengeluh seseorang secara tidak sadar sedang menutup pintu persahabatan dengan siapa pun karena secara alamiah tidak seorang pun yang suka memupuk persahabatan dengan orang mengeluh melulu. Dalam bukunya The Magic of Thinking Big, David J. Schwartz mengatakan, “One may get a little sympathy but one doesn’t get respect and loyalty by being a chronic complainer.” Dengan menjadi pengeluh kronis, orang tersebut mungkin mendapatkan sedikit simpati dari orang lain, tetapi ia tidak akan mendapatkan respek dan loyalitas. Bukanlah suatu hal yang salah jika Anda belum puas dengan apa yang Anda miliki saat ini tetapi ingatlah bahwa sangat tidak terpuji untuk selalu mengeluhkan apa yang belum bisa Anda miliki sementara Anda tahu bahwa apa yang belum Anda miliki tersebut bukanlah satu-satunya halangan untuk mendapatkan apa yang benar-benar ingin Anda miliki. Hanya Anda orang satu-satunya di dunia ini yang bertanggung jawab penuh 100 persen atas hidup Anda. Dalam bukunya The Success Principles, Jack Canfield menceritakan mengenai hal ini. Jack Canfield yang waktu itu bekerja untuk W. Clement Stone. W. Clement Stone adalah seorang multijutawan atas usahanya sendiri yang pada saat itu beraset $600 dan itu jauh sebelum berbagai jutawan dot-com bermunculan pada dekade `90-an. Stone juga merupakan guru kesuksesan nomor satu Amerika. Ia penerbit Success Magazine, penulis The Success System That Never Fails, dan rekan penulis Success Through a Positive Mental Attitude bersama Napoleon Hill. Ketika saya sedang menyelesaikan masa orientasi minggu pertama saya, Mr. Stone bertanya apakah saya bertanggung jawab 100% atas kehidupan saya. “Saya rasa ya, jawab saya. ”Ini pertanyaan ya atau tidak, anak muda. Hanya ada dua pilihan.” ”Yah, sepertinya saya tidak yakin.” ”Apakah kamu pernah menyalahkan orang lain untuk kejadian apa pun dalam hidupmu? Apakah kamu pernah mengeluh tentang sesuatu?” ”Uh... ya... sepertinya pernah.” ”Jangan dikira-kira. Coba dipikir.” ”Ya, pernah.” ”Baiklah, kalau begitu. Itu berarti kamu tidak bertanggung jawab seratus persen atas kehidupan kamu. Bertanggung seratus persen berarti kamu mengakui bahwa kamu menciptakan semua yang terjadi pada dirimu. Hal itu berarti kamu mengerti bahwa kamulah penyebab semua pengalamanmu. Jika kamu ingin benar-benar sukses, dan aku tahu kamu sangat ingin, maka kamu akan harus berhenti menyalahkan orang lain dan mengeluh, serta mengambil tanggung jawab penuh atas kehidupanmu-itu berarti semua hasil perbuatanmu, baik kesuksesan maupun kegagalanmu. Itulah syarat menciptakan kehidupan sukses. Hanya dengan mengakuinya-bahwa kamu yang menciptakan semuanya sampai sekarang-kamu bisa mengambil alih kendali untuk menciptakan masa depan yang kamu inginkan. "Begini, Jack, jika kamu menyadari bahwa kamu telah menciptakan kondisimu sekarang, kamu bisa membongkar dan menciptakannya kembali sesukamu. Kamu mengerti?" "Ya, Pak, saya mengerti." "Apakah kamu bersedia bertanggung jawab seratus persen atas hidupmu?" "Ya, Pak, saya bersedia!" Ada cukup banyak orang yang dengan kondisi yang lebih buruk daripada Anda namun berhasil mencapai apa yang mereka impikan. Kalau cukup banyak orang yang mempunyai batasan yang sama bahkan lebih buruk daripada Anda namun ternyata bisa sukses berarti Anda juga bisa sukses. Bertanggungjawablah 100 persen atas kehidupan Anda untuk menciptakan apa yang Anda impikan. Bertanggung jawab 100 persen berarti Anda harus berhenti berdalih dan mengeluh. Ingatlah selalu bahwa Anda sendirilah orang yang bertanggung jawab penuh atas semua yang tidak dan terjadi kepada Anda. Ingatlah apa yang dikatakan oleh Winston Churchill bahwa harga sebuah kebesaran adalah tanggung jawab. Lakukanlah hal yang berbeda (berhentilah mengeluh dan bertanggung jawab 100 persen atas kehidupan Anda) untuk mendapatkan hasil yang berbeda (apa yang Anda impikan) karena jika Anda melakukan hal-hal yang sama, maka sudah pasti Anda akan mendapatkan hasil yang sama. Berdoalah seperti yang pernah diungkapkan oleh Reinhold Niebuhr, ”Tuhan berikan saya kemampuan untuk mengubah sesuatu yang dapat saya ubah, dan kesediaan untuk menerima sesuatu yang tidak adapat saya ubah, dan kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaan antara keduanya.” Salam sukses luar biasa.
Label: Story
00.55
Dikisahkan, di sebuah seminar motivasi, setelah mendengar banyak kiat-kiat dan pelajaran di sana, saatnya para peserta pulang dengan membawa kesan dan semangat yang membara untuk dipraktekkan di kehidupan mereka lebih lanjut. Di antara mereka, beberapa orang tampak mengalami kemajuan yang berarti. Mereka yang merasakan manfaat dan sangat terbantu setelah mengikuti seminar tersebut, memberitahu teman dan saudara-saudaranya bahwa seminar yang diikutinya sangat bagus dan luar biasa. Dia mulai melakukan anjuran yang diajarkan dan mengalami perubahan cara pandang dan kebiasaannya. Dikesehariaannya, dia berusaha terus menyemangati diri sendiri, aktif mengikuti kegiatan yang positif, mengarahkan seluruh perhatiannya pada usaha yang dijalankan, dan hasilnya....perubahan yang luar biasa dikehidupannya! Mengalami kemajuan dan bersyukur! Ada kelompok yang lain. Setelah mengikuti seminar, mereka juga tampak bersemangat, bersiap-siap untuk mengadakan perubahan, membuat rencana sedetil mungkin. Sayangnya, setelah beberapa saat, rencana yang dibuat tetaplah rencana. Blok mental karena kebiasaan yang dijalani selama ini yakni malas, menunda, tidak bisa menerima penolakan, cepat putus asa saat mengalami benturan, serta cara pandangnya yang negatif terhadap sekelilingnya menyebabkan dia kembali ke pola lama dan mulai menyalahkan keadaan disekelilingnya yang dituduh tidak mendukung dia. Akhirnya, saat ditanya, Anda pernah mengikuti seminar motivasi? "Oya. Saya pernah mengikutinya, seminar yang bagus, pesertanya banyak dan pembicaranya hebat tetapi apa yang diajarkan tidaklah mudah untuk dijalankan. Karena sukseskan milik orang-orang tertentu, dan sayangnya saya bukanlah orang itu." Kelompok yang lain lagi. Setelah mengikuti seminar, dia pun mulai mencoba membuat perubahan. Sayangnya, upayanya tidak terlalu kuat sehingga saat orang-orang disekililingnya tidak menyukai perubahan yang dicobanya, dia pun merasa dijauhi dan tidak diterima dilingkungannya. Akhirnya, sudah bisa ditebakkan?
Pembaca yang budiman,
Seminar sehebat apapun, teknik secanggih apapun, rumus teori seampuh apapun, selamanya tidak akan mampu merubah manusia jika manusia itu sendiri tidak mau merubah dirinya sendiri! Bagi saya kehidupan adalah ruang kuliah atau tempat belajar tanpa batas, bagi pembelajar sejati setiap orang bisa menjadi guru bagi dirinya sendiri, bagi pembelajar tulen cepat sekali menyerap apa yang terjadi disekelilingnya dan dengan cerdas mampu mencerna sebagai bahan belajar untuk kemajuan karier dan hidupnya. Jadi akhirnya semua kembali pada diri sendiri, bagaimana kita mengelola pikiran dan sikap mantal dalam menghadapi perubahan, sekaligus secara tegas mau berubah hingga mampu mengaktualisasikan diri sampai ke puncak kesuksesan.
Label: Story
00.49
Pergantian pengurus, adalah sesuatu yang wajar. Presiden Indonesia sudah berubah dari Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, dan sekarang yang menjabat SBY. Begitupula gubernur, walikota, rektor, dekan dan ketua jurusan, selalu ada masanya. Entah karena disebabkan usia, penyakit, keaktifan dan lain sebagainya.
Selalu setelah pergantian pengurus, orang yang pernah berhubungan dengan pengurus lama, akan selalu membandingkan kelebihan dan kekurangan dari pengurus yang baru. Bukan cuma mahasiswa yang membandingkan, tetapi begitu pula dengan karyawan. Dan yang heran lagi orang di luar kampus pun bisa membandingkan. Pertanyaan yang sering kita jumpai : "Bagaimana sekarang setelah dipimpin oleh X". Pertanyaan tsb masih wajar, tetapi ada komentar yang menghakimi "Kemajuan itu diperoleh dari pengurus yang lama bukan hasil dari pengurus sekarang". Jika membandingkan apa yang baik dari pengurus yang baru, ini pertanda baik. Tetapi biasanya orang akan membandingkan kekurangan, atau ketidak sesuaian pengurus baru dari pengurus lama. Ini yang berbahaya. Karena yang membandingkan akan cenderung melihat yang jelek, jelek dan yang jelek. Dan kejelekan pengurus yang lama akan tertutupi, karena melihat pengurus sekarang lebih parah dan jelek. Misalnya : tidak berani mengambil keputusan, anggota yang kurang displin dibiarkan saja, pengurus baru tidak mengetahui keadaan Dan ingin kembali ke pengurus yang lama. Jika kita melihat kejelekan secara terus menerus, maka hati kita akan cemas, bagaimana dengan masa depan diri kita, organisasi kita, kampus kita, bahkan negara kita. Kemudian hal ini akan berdampak pada apa yang kita kerjakan, kita menjadi malas, ogah-ogahan jika diperintah dengan pengurus baru, kita kadang merasa lebih tahu segalanya, tidak mau diperintah karena lebih senior, tidak mau mengikuti aturan yang dibuat oleh pengurus baru, dll. Tinggalkan masa lalu, raih masa depan. Tetapi untuk kembali ke yang lama, hal ini tidak dimungkinkan. Kita tidak mungkin untuk kembali ke jaman orde baru, atau orde lama. Tetapi yang bisa kita lakukan adalah melihat ke depan. Apa yang akan dicapai hari ini dan hari hari selanjutnya. Apa yang sudah digariskan dan ditetapkan oleh Tuhan, kita tidak boleh mencelanya. Menurut kita jelek, tetapi menurut Tuhan baik. Tuhan adalah pencipta kita, penguasa bumi dan isinya. Pemimpin kita dapat menjadi pemimpin juga karena sudah digariskan dan dipilih oleh Tuhan. Mungkin pemimpin kita juga keberatan saat ditunjuk oleh rekan-rekannya, tetapi karena sudah ditakdirkan untuk menjadi pemimpin, maka dilaksanakanlah. Sehingga kita akan merasa bahwa pemimpin sekarang adalah perintah Tuhan. Jadi kita sebaiknya menghormati mereka. Kalau kita merasakan pemimpin kita yang sedang menjabat, mereka akan bingung untuk melakukan tindakan yang mungkin tidak menyenangkan orang lain. Mereka akan berpikir 2 atau bahkan lebih, sebelum mereka bertindak. Hal ini terjadi, karena mereka belum 100% beradaptasi dengan jabatan yang baru. Kadang kala, pemimpin baru tidak tahu bahwa mereka ada kekurangan. Kita yang tahu kekurangannya, berilah informasi ke mereka. Pemimpin juga banyak gangguan, antara lain korupsi waktu, uang dll. Maka kita berhak menjaga pemimpin kita agar bergerak / bertindak dengan arif dan bijaksana. Kita akan menjadi orang yang berdosa, karena kita tahu dan membiarkan orang lain melakukan kesalahan. Jadi kita sebagai orang bawahan, - Tinggalkan masa lalu, raih masa depan.
Sehingga kita bisa
- Lihat ke depan, berjalan dengan tegak, dan cari tujuan yang harus kita capai.
Dan untuk menjaga pemimpin kita, maka kita wajib
- Lindungi pemimpin kita dari godaan atau gangguan kejelekan, beri tahu hal-hal yang menyimpang.
Label: Story
00.36