Rabu, 10 Desember 2008

Di dunia bisnis otomotif, nama Soebronto Laras tentu tidak asing lagi. Presiden Direktur PT. Indomobil Suzuki Internasional ini telah membawa Suzuki mengukir berbagai prestasi di Indonesia. Salah satu kebanggaannya adalah keberhasilan Soebronto mewujudkan impian dengan meluncurkan mobil Suzuki APV.
Pria kelahiran Jakarta, 5 Oktober 1943 ini memang sudah mencintai dunia otomotif sejak kecil. Awalnya, ia sangat tertarik dengan kegiatan bengkel. Sang ayah, alm. R. Moerdowo sejak tahun 1949 merupakan importir mobil Citroen, Tempo, dan Combi. Tak heran, jika sejak kecil ia menyukai dunia otomotif.
Soebronto mengenyam pendidikan di SD dan SLP Perguruan Cikini, Jakarta kemudian masuk ke jenjang SLA di Harapan Kita, Jakarta. Pada masa remaja, Soebronto pernah menjadi pembalap motor bersama antara lain Tinton Soeprapto.
Setelah lulus SLA, pada tahun 1969, suami dari Herlia Emmi Yani (putri almarhum Jenderal Ahmad Yani) ini melanjutkan pendidikannya di Paisley College for Technology, Skotlandia dengan mengambil studi rekayasa mesin. Pada tahun 1972, ia berangkat ke London untuk kuliah di Hendon College for Business Management. Di sana ia berteman baik dengan Roesmin Noerjadin (mantan Menteri Perhubungan), dan Benny Moerdani (mantan Pangab).
Setelah studinya selesai, pria yang menyukai olahraga ini mulai merintis kariernya di tanah air. Ia berkenalan dengan Atang Latif, pemilik dari Bank Indonesia Raya, dan kemudian bahkan menjadi orang kepercayaan Atang.
Tahun 1972, Soebronto menjabat sebagai Direktur PT First Chemical Industry yang bergerak di bidang formika, alat-alat plastik, dan perakitan kalkulator. Empat tahun kemudian ia menjadi direktur utama perusahaan perakitan mobil Suzuki. Pada tahun 1984, ia menjadi Direktur Utama PT National Motors Co, dan PT Unicor Prima Motor, perakit mobil Mazda, Hino, dan sepeda motor Binter. Kini ia menjabat sebagai Presiden Direktur PT. Indomobil Suzuki Internasional.
Soebronto gemar mengoleksi sepeda motor. Sampai saat ini, ia masih suka menunggang motor ke luar kota. Jika ada produksi baru hasil rakitan pabrik mobilnya, ia tidak pernah absen ikut menguji mobil tersebut. Keterlibatan dan kecintaannya pada dunia otomotif inilah yang membuatnya mampu melewati berbagai krisis yang pernah menimpa perusahaannya.
Kecintaan pada dunia otomotif menjadikan pengusaha Soebronto Laras kian sukses dalam menguasai pangsa pasar otomotif Indonesia. Pandai bergaul dengan berbagai kalangan juga merupakan salah satu kunci kesuksesannya. Itulah bukti bahwa komitmen dibarengi kecintaan pada suatu hal akan membuahkan hasil yang maksimal. Sebuah perjalanan hidup yang patut untuk diteladani dari seorang Soebronto Laras.
Label: Success Story
10.40

Apapun bisnis yang Anda tekuni hari ini, jika melakukan dengan penuh ketekunan dan kesabaran, plus daya juang luar biasa, apapun pasti bisa dicapai. Banyak orang yang sudah membuktikan hal ini. Termasuk orang-orang yang kemudian dicap "beruntung". Karena, sebenarnya, keberuntungan itu pastilah didapat oleh suatu sebab.
Hal ini jugalah yang terjadi pada sosok konglomerat Hong Kong bernama Li Ka Shing. Pria-yang dalam daftar orang terkaya versi majalah Forbes Amerika tahun 2007 menduduki posisi ke-9 dengan kekayaan diperkirakan mencapai US$ 32 miliar-ini di masa awal kejayaannya merintis usaha, sering disebut sebagai orang yang beruntung. Pasalnya, usaha Li kala itu adalah usaha bunga plastik yang bagi sebagian orang dianggap remeh. Namun, dengan kejeliannya, ia melihat peluang bahwa di negara barat banyak membutuhkan bunga plastik. Dari sanalah, bisnis yang dianggap remeh itu justru menjulangkan namanya.
Li Ka Shing sebenarnya memulai semuanya dari sebuah "keterpaksaan". Ia berasal dari sebuah keluarga miskin yang oleh karena perang, harus pindah dari China ke Hong Kong. Saat itu, ia tinggal di rumah pamannya yang lebih kaya. Karena dianggap remeh oleh keluarga pamannya, kelahiran Chaozhou, China 29 Juli 1928 ini bertekad kuat untuk bisa mandiri.
Tekad itu menjadi kenyataan setelah ayah Li meninggal dunia. Sebagai anak tertua, Li kemudian memikul tanggung jawab dengan menjadi tulang punggung keluarga. Padahal, saat itu Li baru menginjak usia 15 tahun. Pada usia yang sangat belia, Li kemudian mendapat pekerjaan sebagai buruh di sebuah pabrik plastik.
Tekad kuat, semangat baja, dan kemauan keras untuk merubah nasib membuat Li-yang harus bekerja 16 jam sehari kala itu- mampu berkembang pesat. Maka, pada tahun 1950-an, ia memberanikan diri membuka usaha sendiri-setelah meminjam modal ke sejumlah relasi-di bisnis plastik dengan nama Cheung Kong Industries. Pelan tapi pasti, berkat kejelian mengamati tren, ia berhasil mendapat banyak keuntungan di bisnis bunga plastik yang diekspor ke negara barat.
Dari pabrik plastik, sayap bisnis Li makin berkembang. Kejeliannya menangkap peluang membuahkan ekspansi ke berbagai bidang. Dimulai dari bisnis real estat hingga mencakup bisnis telekomunikasi. Perusahaannya bahkan kemudian mencatatkan diri masuk bursa Hong Kong Stock Exchange pada 1972. Ia juga mengakuisisi Hutchison Whampoa pada 1975 dan Hong Kong Electric Holdings Limited pada 1985.
Kesuksesan itu tak membuat Li besar kepala. Ia mengaku semua itu bisa didapat karena adanya sinergi dan kerja sama dari berbagai unsur."Idealitas masyarakat hanya dapat diperoleh jika setiap anggotanya siap dan mau mengemban tugas masing-masing," katanya. Dengan prinsip tersebut, Cheung Kong Group kini memiliki operasi bisnis di 55 negara di dunia dan mempekerjakan sekitar 260 ribu staf.
Dengan kesuksesan tersebut, Li kini ingin berbagi. Sebab, ia terinspirasi betapa sulitnya masa hidupnya ketika masih kecil. Untuk itu ia mendirikan The Li Ka Shing Foundation, sebuah yayasan sosial yang bergerak dalam berbagai bidang, terutama pendidikan. Di antaranya ia mendonasikan dana sebesar US$11,5 juta untuk pengembangan pendidikan tinggi di Universitas Manajemen Singapura. Ia juga mendirikan Shantou University di Shantou China yang hingga kini telah meluluskan ribuan orang yang bekerja di berbagai bidang serta membantu dana pendidikan untuk Universitas Hong Kong.
Perjuangan masa kecil Li Ka Shing sungguh pahit. Namun, dengan keyakinan merubah nasib dan disertai semangat serta kerja keras, ia membuktikan bahwa dirinya mampu meraih kesuksesan. Kecepatannya menangkap peluang menjadi bukti bahwa ia juga seorang yang visioner. Kini, dengan pedoman sinergi dan kerja sama yang dijadikan prinsip kerjanya, ia membantu banyak orang melalui yayasannya untuk mencetak generasi muda terbaik di berbagai bidang. Sungguh, inilah gambaran contoh sukses yang mampu menularkan kebaikan ke mana-mana. Luar biasa!!!
Label: Success Story
10.35
Biasa dalam suatu perkuliahan diakhiri dengan ujian. Ujian disini untuk menilai apakah siswa mengerti atau tidak. Begitu pula dengan dosen bahwa ada questioner yang dibagikan ke mahasiswa. Ini ada beberapa perasaan dari dosen mengenai kuesioner.
Bagi dosen yang benar, dia tidak akan takut dengan adanya kuesioner. Dosen kelompok ini akan mempunyai perasaan bahwa dia akan mendapatkan hasil yang baik.
Sedangkan dosen yang merasa melakukan kesalah, dia akan ketakutan dan merasa bahwa dia diawasi dan akan mendapatkan teguran. Maka dia akan protes ke jurusan bahwa dia ada salah apa, kenapa kog dilakukan kuesioner. Apakah dia tidak boleh mengajar lagi kalau salah dll. Apalagi dosen yang baru mengajar, dosen merasa takut, tidak bisa menyampaikan materi, contoh yang diberikan tidak sesuai, kurang memberikan tugas mandiri, hasil ujian tidak memuaskan, suara kurang keras, terlalu banyak istilah yang tidak diketahui siswa dan lainnya.
Kebiasaan dosen juga berbeda-beda. Kita bisa melihat perbedaan kebiasaan dosen dalam mengajar. Ada dosen yang murah nilai, rata-rata nilai kelas baik, atau boleh dikata jarang ada siswa yang mengulang. Ada pula dosen yang selalu datang terlambat, keterlambatan mulai dari 10 sampai 30 menit. Ada pula dosen yang pulang lebih awal, 10 menit atau lebih sebelum waktunya selesai, oleh dosen tersebut sudah ditutup.
Untuk dosen seperti ini, siswa akan memberikan nilai yang baik jika dilakukan kuesioner. Sedangkan ada dosen yang senang memberi tugas, setiap bertemu selalu ada tugas, datang tidak pernah terlambat, materi selalu diberikan sampai waktu terakhir, dosen juga tegas dalam waktu pengumpulan tugas. Dosen ini tidak disukai oleh siswa pada umumnya, hanya siswa yang pandai dan disiplin yang menyayangi dosen ini.
Dengan mayoritas tidak suka, maka dapat dipastikan nilai kuesionernya jelek. Sedangkan dari sisi siswa, apalagi ada siswa yang sudah terlanjur kena marah dari dosen, atau terkena sindiran yang membuat siswa tersebut malu, atau mendapatkan informasi dari senior mengenai kejelekan dosen tersebut maka kuesioner akan diisi dengan nilai rata kiri semua, alias sangat jelek.
Oleh sebab itu, untuk menjaga agar dosen yang benar, tidak mendapatkan hasil yang jelek, maka kuesioner harus dibuat dengan baik dan benar. Begitu pula dengan kuesioner harus disesuaikan dengan visi dari institusi pendidikan. Begitu pula kuesioner bukan diisi bagi yang ingin mengisi, seperti di web site. Orang untuk mengakses web site dan mengisi kuesioner, paling banyak adalah orang yang mengeluh mengenai dosen ybs.
Sehingga hasil kuesioner bisa tidak valid. Sehingga harus dipikirkan dengan mengunakan kertas atau web yang paling sesuai untuk menerima kuesioner. Dan bagi dosen, masukkan tidak diterima sebagai suatu yang diperbantahkan, tetapi sebagai bahan masukan bagi dosen untuk introspeksi diri. Dan dengan diterimanya keluhan itu oleh si dosen maka dosen ini akan semakin baik dan semakin maju. Bukan sebagai dosen, sebagai siswa, karyawan ataupun pemerintah sama saja, jika dia mendapatkan nilai buruk.
Kita harus ingat bahwa orang yang selamat adalah bukan orang yang kuat, atau orang yang berbadan besar, tetapi orang yang dapat dengan mudah beradaptasi. Keluhan atau kritik pedas yang diterima melalui kuesioner, janganlah menjadi hambatan, tetapi keluhan atau kritik pedas adalah masukan yang berharga.
Jadi kita harus menerima keluhan atau kritik tersebut, untuk membuat kita bisa berubah dan beradaptasi lagi menjadi lebih baik.
Label: Story
10.30